Ujian sekolah yang dilakukan oleh pemerintah setiap tahun bukanlah merupakan hal baru di kalangan para pelajar. Setiap tahunnya, ribuan pelajar di seluruh Indonesia harus menghela napas dalam menghadapi ujian yang bukan perkara sulit ini. Tak heran, banyak opini pro dan kontra yang mewarnai pelaksanaan ujian ini setiap tahunnya.
Bagi yang tidak setuju, sudah merupakan hal yang rutin bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi mereka di depan kantor para petinggi penentu nasib pendidikan di negara ini yaitu Departemen Pendidikan atau langsung ke kantor orang nomor satu di negeri ini yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat.
Tahun ini, demostrasi mungkin terasa sedikit lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena pemerintah telah menambah jumlah mata pelajaran yang harus dilalui oleh setiap anak bangsa. Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), yang diujikan semula hanya Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, sedangkan untuk tahun ini, murid-murid yang berada di jurusan IPA mendapat kado berupa tiga tambahan mata pelajaran yang diujikan yaitu Kimia, Fisika, dan Biologi. Hal yang sama terjadi pada jurusan IPS, mata pelajaran yang ditambah adalah Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.
Penambahan jumlah mata pelajaran yang diujikan diharapkan dapat meningkatkan standar pendidikan yang ada di negeri kita tercinta ini. Banyak orang yang merasa optimis hal ini akan tercapai, termasuk dari pihak pemerintah, tetapi lebih banyak lagi yang tidak setuju. Banyak orang merasa sebaiknya ujian nasional lebih baik ditiadakan setelah melihat bagaimana pelaksanaannya selama betahun-tahun dilakukan.
Kekurangan yang pertama adalah pemerintah harus mengeluarkan banyak uang untuk melaksanakan ujian ini dan berpengaruh pada peningkatan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) setiap tahunnya. Bagaimana tidak? Pemerintah harus mengeluarkan uang untuk mencetak ribuan eksemplar soal untuk dibagikan pada setiap penimba ilmu di Indonesia pada tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Tidak itu saja, pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak dana dalam menjamin kerahasiaan setiap soal yang diberikan. Jutaan personil dari kepolisian disiagakan untuk mengawasi penyaluran soal ke setiap sekolah yang turut serta dalam ujian. Apakah pemerintah telah berhasil dalam pengawasannya? Sayangnya belum. Masih banyak terjadi kebocoran soal dan ironisnya hal itu dilakukan oleh aparat pemerintah itu sendiri.
Kecurangan yang terjadi tidak hanya berhenti di situ, pengawas yang juga adalah guru-guru yang seharusnya mengajarkan nilai kejujuran kepada para muridnya, malah memberikan contekan dengan menyisipkannya pada tangannya sambil berjalan berkeliling kepada para muridnya. Mungkin mereka sudah tidak lagi memiliki hati nurani yang selayaknya dimiliki oleh seorang makhluk berinsan yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa.
Alasan yang kedua adalah semua nilai-nilai hasil jerih payah para siswa selama menimba ilmu tiga tahun sebelumnya hanya terkesan sia-sia belaka karena kelulusan hanya ditentukan oleh beberapa hari terakhir saat mengerjakan ujian tersebut. Terkesan aneh dan janggal memang.
Bagi pihak yang memiliki pandangan lain, mereka berpendapat dengan melakukan ujian ini, Indonesia dapat mencetak pemuda yang lebih berwawasan dan beependidikan sehingga dapat mengubah masa depan Negara ini kelak. Hal itu mungkin terlalu muluk, mengingat banyaknya hal-hal yang belum dibenahi secara sungguh-sungguh oleh pemerintah. Usaha untuk meninggikan standar tidak hanya dilakukan dengan ujian, berkali-kali kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah diganti. Bahkan terkesan terlalu terburu-buru dalam penggantiannya.
Kita hanya bisa berharap agar usaha pemerintah ini dapat membuahkan hasil setelah mengingat sektor pendidikan Indonesia sudah jauh terbelakang dibandingkan Negara-negara lain. Padahal, pada tahun 70 dan 80-an, pendidikan di Indonesia lebih baik dari pada Malaysia, namun sekarang yang ada adalah pendidikan di negeri ini lebih terbelakang. Kita mungkin harus bersikap dewasa dalam mengikuti semua usaha pemerintah dan menanggapinya dengan penuh optimis dan bagi pemerintah, lebih baik agar semua hal yang dilakukan membuahkan hasil, bukan hanya janji-janji belaka.
sumber : www.wikimu.com