Sabtu, 28 Juni 2008

Pemberdayaan Anak Negeri Redam Konflik Papua

JAYAPURA [Deteksipos] - Pemberdayaan rupanya punya relevansi penting dengan resolusi konflik dalam rangka mewujudkan Perdamaian di Papua. Hal itu menjadi topik utama dalam pembicaraan antara wakil Ketua II MRP Ir. Frans Wospakrik, M.Sc dengan Prof. Dr. Roberth A. Evans dan Alice F. Evans dari Plowshares Institute salah satu LSM bertaraf Internasional asal Amerika.


Sebenarnya mereka datang ke MRP hanya untuk silaturahmi, tetapi kami membicarakan banyak hal tentanng situasi dan pembangunan di Papua, tetapi yang paling dominan kami bicarakan adalah tentang pentingnya pemberdayaan orang asli Papua untuk meredam konflik., kata Wospakrik kepada wartawan beberapa waktu yang lalu.


Dikatakan, kedua aktivis yang juga guru besar Amerika Serikat itu mengaku sangat tertarik dengan Papua, sehingga mencoba sharing pengalaman yang mereka lihat di negara lain, khususnya bagimana fungsi pemberdayaan memiliki relevansi yang kuat dengan resolusi konflik. tak heran kalau kedua orang ini juga datang utuk memperkuat upaya pembentukan komisi perdamaian papua yang saat ini tengah di proses.

Wospakrik menyebutkan bahwa ada keprihatinan dari Roberth dan Alice dalam penanganan konflik di Papua, dimana seringkali Pemerintah dalam menyelesaikan konflik ingin Instant ( cepat-cepat) sehingga hasilnya membawah dampak yang tidak baik, bahkan menciptakan peluang konflik baru di masa depan.

Hal ini juga menjadi satu keprihatinan mereka, khususnya dalam penyelesaian konflik-konflik di Papua katanya. Selain itu tak jarang, dalam penyelesaian konflik ditempuh dengan cara kekerasan yang justru akanmemperkeruh keadaan dan membuat konflik akan semakin meruncing.

Padahal cara-cara damai yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan konflik di Papua atau dimanapun. Damai atau yang yang disebut dengan penyelesaian konflik dengan cara damai, saya bilang salah satu hal penting bagi orang Papua untuk bisa keluar dari maslah adalah konflik tidak bisa dihadapai denga kekerasan, ujarnya. Sebab orang Papua sudah komit untuk menciptakan Papua Tanah damai yang tidak ingin menyelelesaikan konflik dengan kekerasan tetapi dengan cara damai.

Lanjut Wospakrik, dalam pembicaraannya itu juga kedua warga negara USA itu sengaja datang ke Papua untuk memperkuat lembaga diPapua, terutama LSM yang ada bagaimana menfasilitasi proses penyelesaian konflik secara damai di Papua. Jadi mereka datang kesini untuk bekerjasama dengan lembaga nasional di Indonesia termasuk LSM untuk memperkuat komisi perdamaian di Papua yang akan di bentuk, kantanya lagi.

Lebih jauh Wospakrik, kedua orang itu juga bertanya tentang tentang implementasi UU 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua, yang dipandangnya sebagai hal yang menarik karena merupakan bagian dari revormasi di Indonesia. Wospakrik juga menjelaskan secar singkat termasuk lembaga MRP itu yang merupakan bagian dari amanat Undang-Undang tersebut. Dimana MRP harus berperan aktif dalam memberikan perlindungan dan proteksi serta pemberdayaan bagi orang asli Papua.

Mengapa Pemberdayaan sangat penting, sebab kita memahami orang Papua punya banyak kelemahan, orang banyak yang mengikuti pendidikan untuk dapat gelar sarjana, padahal, bukan itu saja tetapi juga bagaimana pendidikan itu itu membuat orang Papua mampu memanfatkan peluang yang ada.

Sementara realitasnya, banyak orang Papua yang tidak mampu memanfaatkan peluang karena mereka tidak memilki skill, hal ini kemudian mampu menjadi faktor pemicu lahirnya konfloik kalau tidak dijembatani melalui pemberdayaan.

Selama ini orang Papua hanya bisa sebagai konsumen sementara saudara dari luar Papua umumnya adalah produsen, ini bisa menciptakan kecemburuan sosial, dia tidak tahu orang lain bisa maju karena dia bekerja keras sehingga bisa dapat pendapatan yang lebih baik.***
______________________________
Sumber: Deteksipos Papua

Tidak ada komentar: