Luar biasa pikirku sehabis menyaksikan suatu aksi pameran kebudayaan yang dibawahkan sisiwa seperti saya yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas seprti saya saya sendiri. Hal ini saya katakan ketika berkaitan dengan adanya bulan bahasaya yang jatuh pada bulan oktober maka teman-teman saya yang duduk disekoilah Sma adhi luhur menggelar pameran tersebut.
Sesuatu sangat menakjubkanlah yang akan membuat pikiran maupun wawasan bahkan hati tergoyah untuk mengataknya bahwa sangat luar biasa. Hal ini juga yang seperti saya alami dimana saat pameran budaya ini diadakan saya pun sangat terkagum bahkan terheran-heran. Bebrapa hal yang membuat saya terkagum dan heran.
Kekompkan atau Kebersamaan.
Dimanapun baik dijajaran pemerintahan, dijajaran perusahan, dijajaran pebisnisman kompak dan kerja sama dalam meyelesaikan sesuatu sangatlah suka dan susah. Hal itu sangat susah dilakukan maupun dilaksanakan dikarenakan bebagai hal diantaranya mungkin takut bersaing, takut dinggap remeh oleh sesama temannya bahkan ada juga yang biasa mengatakan menjaga martabat diri. Beberapa hal itulah yang membuat sehingga kebersamaan dan kekompoakan dalam hidup bersama susah sekali diwujudakan.
Namun lain halnya teman-teman kita yang berada di Sma adhi luhur mereka tidak mengenal yang namanya sistem-sistem seperti diataas sehingga setiap apa yang mereka kerjakan sangat kompak. Padahal kalu dilihat sekolah tersebut yang masuk bukan putra daerah (PAPUA) dimana semua kota dari seluruh indonesia menempuh pendidikan disitu. Hal inilah yang mebuat penulis sangat kagum bahakn bangga melihat para siswa-siswa yang masih tetap mau menjunjung tinggi kebersamaan dan kekompkan dimana pun berada.
Dengan kekompakan dan kebersamaan mereka sanga luar biasa suatu acara yang kalau dibilang sangat susuah bahkan sulit penyelenggaraannya dapat mereka selenggarakan dengan sukses tanpa kendala apapun.
Keberanian Mereka
Dari dalam hati yang paling dalam sayapun mengakui diri saya kalau saja saya disuruh unutk memakai pakaian adat daerah saya yaitu koteka dan Sali untuk memainkan maupun membahwakannya dalam sebuah kesempatan sayapun akan menolaknya dengan mentah-mentah tawaran tersebut karena bagaimana saya mau menerimamanya sedangkan saya telah hidup didaerah perkotaan sangat lama dan telah memilki kerabat maupun kenalan yang sangat banyak dan saata itulah mereka menyaksikan saya bertelanjang diri hanya memakai koteka yaitu suatu busana pria untuk menutup alat vitalnya saja, apa kata mereka saat kegiataan telah selesai adakah yang akan menerima saya atau mereka amalah akan menerima saya sekaligus tidak menertawakan saya.
Pikiran dan paradigma salah seperti inilah yang telah tertanama dipikiran bahkan telah berakar diohati para pemuda-pemudi Papua zamana sekarang ini sehingga unutk mengembakan maupun melestarikan budaya tarian panah sangata susah ditemukan lagi sehingga yang ada hanya tinggal tunggu mayat untuk dikubur karena tidak pernah dikembangkan lagi oleh generasi zaman sekarang. Dengan paradigma maupun pemikiran yang salah mengenai budaya tadi membuat dengan mudah dan liarnya beragai budaya dari luar masuk berkembang dan membabi buta dibumi Papua. Dengan masuknya berbagai budaya tersebut membuat banyak dari pemuda-pemudi Papua lebih memil;ih ikut dan menyukseskan budaya dari luar itu.
Nah yang membuat saya kagum dan bangga dengan teman-teman putra daerah Papua di SMA Adhi Luhur karena keberanian mereka tampil tanpa busana hanya memaki koteka bagi pria dan Sali bagi wanita hal ini membuat setiap jajran pemerintahan baik bupati, dandim, kepala-kepala dinas sangat heran dan terpaku sengan menyaksikan karena sangat sengan karen amasih ada yang tetap mau untuk mempertahankan kebudayaan mereka. Hal ini juga mendapat sambutan hangat bahkan pujian luar biasa dari salah satu mahsiswa yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Jojga Jeremia Ignas Degei katanya beberapa saat kedepan kalau saja acara acara masih tetap dilaksanakan berati budaya papua yang sangat luar biasa ini akan tetap terbiuna dan subur sampai selamal;amanya.
Bahkan setelah lengkap dengan pakaian adat mereka, merekapun membawakan berbagai drma berbau tarian adat yang intinya ingin supaya tarian adat yang telah para lelhur wariskan dan kembvangkan bahkan diciptakan tersebut masih bisa diketahui dan ditahu oleh anak-anak generasi yang berikutnya. Denga berani tegar dan tanpa gentrar dalam membawakan tarian ini mereka bagi menjadi dua kelompok karen ayang hidup dikabupaten nabire mayoroitas suku dan masyarakat ekar maka yang kelompok pertama masyarakat ekar dan yang kedua penggabungan dari deua suku yaitu suku moni dan suku dani.
Dari p[embawaan drama tersebut sangat terlihat kalau kedepannya akan bangkit dan akan ada pemimpin Papua yang beranio dalam berbicara, berani dalam mengambil keputusan, berani dalam mengambil tindakan dan berani mengambil kjeptusan yang pasti. Denga pembawaan drama tersebut saya mengucapkan selamat kepada para pemimopin baru Papua yang kedepannya akan memimpin papua deng sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar