Oleh : Ferdinan Setu
Asrama Agep, (oktopogau.com) Kita kembali mengenang Mei. Yapss, Mei 1998. Bulan yang penuh rusuh, bulan penuh api, bulan yang melahirkan reformasi. Sejak 5 Juni 2008 kemarin, kita akan kembali mengenang peristiwa ini, dengan ditayangnya film bertajuk ”May”.
Film MAY menampilkan kisah cinta yang menempati ruang-ruang emosi karakter-karakter yang terlibat di dalamnya, lengkap dengan ruang historik yang melatarbelakanginya. MAY merupakan kisah cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa yang merupakan catatan kelam bangsa Indonesia yaitu Peristiwa Mei 1998. MAY menggambarkan bagaimana cinta antara tokoh Antares yang warga pribumi dan May yang warga keturunan harus berpisah dan hancur lebur karena peristiwa sosial yang terjadi, termasuk memisahkan orang-orang di sekitar mereka. Namun demikian MAY juga menampilkan upaya penyembuhan luka dan pemaafan melalui cinta.
Mengatasi perbedaan kulit di antara mereka, Antares dan May saling mencintai. Pada suatu hari di bulan Mei 1998, mereka terpisah dan tidak pernah lagi bertemu satu sama lain. May berpikir bahwa Antares telah meninggalkannya dan dengan pikiran itu, ia menjalani hidupnya. May mencoba melupakan kepedihan itu, lari dari Indonesia dan hidup dengan kenyataan baru: ia telah menjadi seorang ibu. Ketika ia mencoba untuk kembali ke rumahnya sendirian di hari itu, sekelompok orang menculiknya dan memperkosanya. Seandainya saja Antares menjemputnya di hari itu dan tidak disibukkan dengan perannya sendiri sebagai seorang pembuat dokumenter di tengah momen yang bersejarah, ia tidak akan mengalami kenyataan yang tengah dihadapinya kini. Itulah sinopsis singkat film arahan sutradara Viva Vesti ini.
Mengingat Mei, saya jadi teringat sajak indah tapi getir dari penyair Joko Pinurbo (Jokpin). Ia menulis.begini :
Mei / Jakarta, 1998/Tubuhmu yang cantik, Mei / telah kau persembahkan kepada api./Kau pamit mandi sore itu./Kau mandi api. Api sangat mencintaimu, Mei./ Api mengucup tubuhmu /sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi./ Api sangat mencintai tubuhmu /sampai dilumatnya yang cuma warna / yang cuma kulit, yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei/ adalah juga tubuh kami./Api ingin membersihkan tubuh maya / dan tubuh dusta kami dengan membakar habis /tubuhmu yang cantik, Mei. /Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api./Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur / dengan tubuh bumi; /Ketika tak ada lagi yang mempertanyakan /nama dan warna kulitmu, Mei. (Pacar Senja, hal. 120)
Kenapa Mei mempersembahkan tubuhnya kepada api? Karena cinta. Karena cinta pula maka “api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. ”Api sangat mencintai tubuhmu….” Ini penegasan dari larik awal di bait kedua ini. Tubuhmu, Mei. Tubuh.
Betapa jeli dan arifnya penyair kita ini. Dia tak perlu membebani sajaknya dengan fakta-fakta kekerasan terhadap etnis Tionghoa (di Jakarta yang entah karena apa dijadikan sasaran lain dalam kerusuhan itu. Ia cukup menyebut nama bulan kejadian itu: Mei. Kata itu terdengar seperti nama lazim bagi perempuan Tionghoa, May.
”Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi.”Kemarahan yang getir terasa di bait ini. Itupun tidak diteriakkan. Jokpin memang tidak ingin berteriak. Dengan bait ini ia seakan hanya menuliskan kalimatnya dalam lembaran notes dan meminta orang membacanya: …kenapa harus dilumatkan? Bukankah tubuh itu sama? Yang berbeda itu hanya kulit, hanya warna dan itu semua ilusi saja. Ah, kita memang sering tersesat dengan ilusi sendiri.
Meski saat ini tengah menikmati Juni, May dan Mei 1998 tetap perlu dikenang. Lantara Mei adalah titik reformasi, dan reformasi telah mengantarkan kita hingga seperti ini, sebuah bangsa tanpa takut berekspresi. Lantaran May adalah seorang gadis manis di beranda Indonesia ini.
Sumber :http://wikimu.com