Kamis, 05 Juni 2008

Polda Papua Selidii Keterlibatan Anggotanya


Polda Papua akan menyelidiki dugaan keterlibatan anggtotanya, Bripda Pol. Erik Makatita, pada penyerangan di Desa Salemen ke Desa Horale, Kabupaten Maluku Tengah (2/5). Demikian keterangan Kapolres Malteng AKBP Eko Widodo, Selasa di Masohi.

"Soal Bripka Erik masih dilakukan pendalaman informasi dugaan keterlibatannya, berdasarkan laporan warga Desa Horale yang melihat yang bersangkutan saat penyerangan yang mengakibatkan empat orang meninggal," katanya.

Bripka Pol Erik adalah anak Kades Salemen, Ali Arsad Makatita, yang menurut keterangan Polda Papua, telah desersi setahun lebih.

Kapolres pun mengakui keberadaan Bripka Pol Erik belum diketahui sehingga pendalaman informasi soal keterlibatannya masih intensif dilakukan agar tidak meresahkan warga Desa Horale, dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa polisi tidak "tebang pilih" dalam menegakkan hukum.

"Kapolda Maluku, Brigjen Pol. Moh. Guntur Ariyadi sudah menginstruksikan untuk melacak keberadaan oknum polisi tersebut dan bila ditemukan hendaknya diamankan guna menjawab dugaan keterlibatannya dalam penyerangan ke Desa Horale," tegasnya.

Ditanya soal jumlah tersangka, Kapolres menjelaskan bahwa jumlahnya telah bertambah lagi 11 orang sehingga menjadi 37 orang, yang saat ini sedang diamankan dan ditempatkan di Mapolres Malteng dan Mapolda Maluku.

"Sebelas tersangka baru itu terdapat Kades Salemen, Ali Arsad Makatita dan Sekdes setempat, Ramli Iahuhun karena sebelum penyerangan terlibat langsung dalam pertemuan pada 28 April lalu," katanya.

Kapolda Maluku, Brigjen Pol. Ariyadi sebelumnya mengindikasikan keterlibatan jaringan teroris dalam penyerangan ke Desa Horale karena polanya terorganisir dan menyebabkan pengrusakan/pembakaran terhadap tiga unit fasilitas agama, guna memicu terjadinya kerusuhan baru di Maluku menyusul peristiwa sejak 19 Januari 1999 lalu.

Indikasi keterlibatan jaringan teroris ini terlihat dari sifat penyerangan yang terorganisir, yang diawali dengan rapat pada 28 April yang dihadiri oleh 100 orang, antara lain Kades Salemen, Ali Arsad Makatita dan stafnya, kepala pemuda Rahman Iahuhun, dan tokoh pemuda, Anas Latutuaparaya.

Penyerangan dengan menggunakan bom rakitan, senjata api rakitan, panah dan ombak melalui jalan darat serta satu unit speedboat dan dua unit ketinting yang ditandai pembakaran mercon.

"Karenanya, indikasi jaringan teroris "bermain" diperkuat dengan pembakaran "simbol-simbol agama", sedangkan SD yang lokasinya berdekatan hanya mengalami kerusakan kaca jendelanya," kata Kapolda Brigjen Pol. Aryadi.

sumber :http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114846