Catatan Kecil Untuk Masyarakat Kabupaten Nabire
Tidak lama lagi pemilihan kepala daerah di Kabupaten Nabire akan di berlangsungkan. Tentunya semua masyarakat kota Nabire mendambakan dan mengharapkan pilkada yang adil, jujur dan transparan, dan tentunya juga di harapkan pemimpin yang mampu mengerti dan memahami betul persoalan yang terjadi di masyarakat.
Mengutip kata Jhon Maxwell yang mengatakan bahwa, kita dinilai kehebatannya bukan seberapa lama kita memimpin dan berada di tengah masyarakat, tetapi apa yang kita lakukan dan perbuat demi kemajuan mereka, bahkan dengan kehadiran kita menjadi perubahan dalam kehidupan mereka baik tingkah laku, tata cara maupun kebiasaan.
Bahkan bukan tidak mungkin juga, kalau kehadiran seseorang, pemimpin sekalipun dapat menjadi batu sandungan di tengah masyarakat. Sehingga apa yang diperintahkan oleh seorang pemimpin itu dapat menjadi bumerang yang dapat merugikan masyarakat setempat. Tentunya kita harap, jangan sampai ada pemimpin terpilih di pilkada nabire yang seperti ini.
Dengan demikian apapun yang dikatakan dalam kampanye maupun kunjungan-kunjungan tertentu dari para kandidat bupati janganlah menjadi tolak ukur untuk mengarahkan hati nurani kita padanya, karena belum tentu hati nurani berbicara demikian. Karena bisa saja keinginan daging kita mengalahkan hati nurani kita yang selalu mengarahkan kita.
Bahkan jangan juga cepat terpancing dengan umpan-umpan atau janji-janji politik yang dibisikan di telinga dengan sangat manis. Karena umpan manisan itu belum tentu menjadi manisan yang betul-betul manis dalam jangka waktu yang cukup lama, karena bukan hal mudah, sebuah barang yang manis bertahan lama dan awet, begitu bukan??.
Helly Weror boleh saja mengaku dirinya sebagai seseorang yang ingin menyelamatkan Papua, terutama Nabire dari hama-hama pengusik yang suka mengusik uang rakyat, dengan mengatasnamakan Tuhan dengan kasih. Tetapi yang perlu ditanyakan kembali adalah apakah di posisi itu dia tidak akan seperti hama pengusik yang telah di bencinya itu, kalau tidak seperti itu lagi sih bagus aja, tetapi andaikata kembali mencintai lagi hama-hama pengusik itu bagaimana pandangan masyarakat Nabire terhadapnya, malu nggak yah?
Nelles Yawan boleh saja, mengangkat dirinya, seakan-akan bapak pembangunan di Nabire, karena pengalaman menjadi kepala distrik serta beberapa jabatan structural lainnya memang sungguh terbukti, tetapi akan menjadi cuka yang menyiran muka dan jantung ketika terpilih nanti membuang-buang kepercayaan itu dan melupakan janji manis yang pernah di keluarkan melalui kampanya maupun pertemuan-pertemuan tertentu..
Ayub Kayame, boleh saja mengaku dirinya dermawan yang sangat luar biasa dan terbaik. Sebut saha kehebatannya dalam membantu dan mendukung orang lain, yang kalai tidak salah sempat memberikan banyak bantuan kepada para hamba Tuhan di beberpa gereja di Nabire untuk kelangsungan pembangunan gerejanya, kl di lihat bukan hal mudah lho, karena tidak semua orang memilki hati demikian. Namun yang sangat di sayangkan lagi bantuan itu diberikan dengan maksud dan iming tertentu. Bapak disurga tahu kok, mana yang memberikan dengan iklhas, mana yang memberikan dengan harapan karena semua umat manusia adalah ciptaan Tuhan.
Dan saya sendiri sebagai warga gereja, sangat berterimakasih dengan bantuan ini, karena dapat meringankan beban, yang sekaligus bias membantu kelangsungan dan kelancaran peribadaan di tanah yang telah di anugerahkan Tuhan ini.
Selain itu boleh saja Marthen Rumadas mengaku dirinya sebagai seorang pemimpin yang mau menyatukan masyarkat dari segala golongan dan masa. Termasuk dari berbagai komponen agama. Hal ini tidak salah, dan kalau mau dibilang itu merupakn suatu langkah serius yang cukup dan luar biasa, tetapi jangan menghamburkan madu hanya untuk kepentingan dan jabatan.
Isaus douw, boleh saja mengakui dirinya sebagai putra asli dari Nabire yang mau kembali membangun dan mengangkat jati diri kota nabire, dari segala ketertinggalan. Tapi jangan menjadi putra asli daerah Nabire yang datang untuk mencari jabatan structural yang lebih tinggi dan lebih layak. Karena bukan tidak mungkin, kalau uang, jabatan dan kedudukan menjadi iming-iming utama untuk membangun Nabire.
Frans Mote, boleh saja mengaku sebagai putra asli daerh Nabire yang telah lama bertugas dan berjasa di Nabire. Dan dengan penglamannya bertugas itu menjadikannya paham dan mengerti betul beberapa persolaan yang terjadi di masyarakat Nabire. Berangkat dari pada itu dirinya ingin mencalonkan diri menjadi bupati Nabire. Yang punya harapan dan impian merubah ketertinggal di Nabire, tapi jangan hanya janji-janji manis saja, karena banyaknya janji kadang membunuh masyarakat dengan janji-janji itu.
Selain kelima calon diatas, sebut saja beberapa calon yang punya impian dan harapan manis untuk mengubah Nabire dari beberpa ketertinggalan seperti: Timotius Murib, Sipora Boray, Abner Kalem dan beberap calon lainnya.
Disini yang sangat diharapkan adalah kerja nyata kita. Banyak pemimpin yang telah mengabdi sekian lama, bahkan bertahun-tahun, namun toh, tetap saja di benci oleh masayarakat setempat. Lihat beberapa contoh beberap tokoh didunia, George Bush, Alexander Gorbachev bahkan presiden kita, Soeharto sekalipun. Kita tahu beberap orang diatas, kehebatan dan kemampuan memimpinnya sangat luar biasa, tapi apa reaski rakyat yang di pimpin setelah masa akhir jabatan, malahan presdien kita Soeharto di turunpaksakan oleh masyarakat kita sendiri melalui mahasiswa pada beberapa tahun lalu.
Namun banyak juga yang mengistilahkan, para pemimpin yang dipercaya adalah para pemimpin yang mempuyai segalanya. Sebut saja wakil presiden kita, salah satu orang terkaya di Indonesia, yang menjadi wakil dan panutan rakyat. Memang kekayaan tidak akan membawah kita pada ketertarikan suatu masyarakat disuatu tempat, tetapi bukan tidak mungkin juga kalau kekayaan kita akan membawah kita pada kemenangan (takhta, jabatan dan kedudukan).
Lihat saja, menjelang pilkada saat-saat ini. Tidak punya masa (dukungan), tetapi kalau punya banyak uang (kekayaan) bisa saja mengalahkan yang punya banyak masa. Jadi kalau mau menang harus punya uang dan masa, kalau tidak punya masa tetapi kalau ada uang bisa menang juga kok, betul nggak yah?
Beberapa saat lalu, tidak ingat persis itu hari apa dan tanggal berapa, salah seorang dari team sukses Jams Wakur datang kepada saya dan mengatakan dengan nada yang agak kesal dan marah ”adik, saya sangat kecewa sekali, saya punya suara (dalam bentuk KTP) sangat banyak, hamper 12.000 lembar, dan bukan dalam bentuk copyan, namun dalam bentuk kartu, ketika saya menyerahkan ke KPU, kata mereka ketika pengumuman hasilnya mereka katakana Cuma 8.000 saja, yang selebihnya kemana”imbuhnya”.
Dan yang lebih dikesalkan lagi, lebih lanjut dikatakannya” bahwa dalam hal ini KPU sama sekali tidak menjelaskan keputusan pasti, tentang jumlah suara (dalam bentuk KTP) yang jumlahnya berlainan dengan perhitungan kita, dan sebagai orang yang ingin menjunjung tinggi supermas hokum di Papua, terutama di Nabire sangat kecewa sekali dengan perlakuan ini”, tandasnya dengan nada marah”.
Memang dalam pemlihan seperti ini, posisi hati nurani setiap warga masyaraka tidak bisa dibandingkan dengan apapun, termasuk uang dan antek-anteknya. Tetapi bukan tidak mungkin juga, kalau semua itu di beli dengan uang dan kekayaan. Masih teringat dibenak penulis saat calon gubernur Jawa Timur menghamburkan lembaran 20 ribu menggunakan pesawat yang bukan tidak mungkin kl dapat mempengaruhi hati masyarakat.
Jadi pada dasarnya begini saja, siapapun masyarakat yang telah di beli dengan uang serta antek-antek baik janji-janji politik maupun yang lainnya berarti dirinya sedang di beli. Memang begitu, hati nurani berbicara tentang harga diri, harga diri jangan sekali-kali mau dibeli dengan uang dan segalanya, karena berharga dan tidaknya diri kita tergantung kemana kita membawah hari nurani kita.
Jangan jadikan hati nurani sebagai barang murahan yang mudah dibeli dan dipengaruhi, karena ketika hati nurani kita sedang dibeli dengan iming-iming janji politik, yang ada pada kita hanyalah kekecewaan dan kekecewaan. Dan kalau sifat seperti ini telah muncul dalam kehidupoan kita kehidupan tidak tenteram dan tidak tenteram.
Jadi akhrinya, berharga dan tidak diri kita, hebat dan tidak diri kita, berhasil dan tidak diri kita, suksed dan tidaknya diri kita maju dan tidaknya diri kita, ditentukan dari apa yang kita akan pilh dan tentukan pada pemilihan kepala daerah pada 22 Oktober mendatang. Pilihlah mereka yang memang betul-betul mau membawah perubahan dan peduli terhadap kelangsungan hidup masyarakat.
Selamat memilih, semoga pilihan kita adalah pilihan Tuhan, dan pilihan kita adalah harapan, dambaan, dan kebutuhan setiap masyarakat Nabire.
Akhir kata, Ini menjadi pertanyaan serius yang harus di jawab oleh para kandidat bupati dan wakil bupati nabire, Apa motivasi anda dalam mencalonkan diri? Jangan karena dendam, karena uang, jabatan, kedudukan dan segalanya. Karena sampai kapanpun Tuhan tidak pernah mempercayakan kedudukan kepada orang yang punya motivasi yang tidak benar. Semoga motivasi anda-anda sekalian adalah motivasi yang diinginkan Tuhan dan masyarakat di Kabupaten Nabire sehingga kehidupan yang aman, tenteram dan sejahtera bias dirasakan oleh semua golongan masyarakat dan agama di kabupaten Nabire yang kita cintai ini.
Oktovianus Pogau
*Penulis adalah Siswa SMA Kristen Anak Panah,
Dan penulis di media Online, Internet.
Dapat Link di www.oktopogau.co.cc